Pemerintah Kabupaten Sidoarjo baru-baru ini menunjukkan keprihatinan mengenai tingginya peredaran gula rafinasi di pasar tradisional. Fenomena ini menyebabkan menumpuknya gula petani di gudang, memperlihatkan masalah serius dalam pemasaran produk lokal. Gula rafinasi, yang seharusnya digunakan hanya untuk industri makanan dan minuman, hingga kini diduga telah merambah pasar rakyat, mengakibatkan penurunan penjualan gula yang dihasilkan oleh petani lokal.
Wakil Bupati Sidoarjo, Hj Mimik Idayana, mengungkapkan, keluhan pertama kali disampaikan oleh para petani tebu yang mengamati peredaran gula rafinasi. Hal ini telah berakibat pada menumpuknya produk gula milik petani di pabrik-pabrik. “Aturan telah jelas menyatakan bahwa gula rafinasi tidak boleh dijual di pasar rakyat. Kami akan bekerja sama dengan instansi terkait untuk menghentikan peredaran ini,” ujarnya tegas.
Dampak Peredaran Gula Rafinasi Terhadap Petani
Masuknya gula rafinasi ke pasaran telah memberi dampak langsung bagi pabrik-pabrik gula lokal, termasuk Pabrik Gula Candi Baru Sidoarjo. Pabrik ini kini menghadapi tantangan serius dengan menumpuknya stok gula hasil produksi. Dengan harga gula lokal yang terjun bebas ke bawah harga acuan yang ditetapkan pemerintah, petani semakin kesulitan dalam menjual produk mereka.
Yoga Aditomo, HRD dari PG Candi, menjelaskan bahwa saat ini pabrik sedang dalam masa giling, di mana seluruh pabrik gula memproduksi gula dari tebu. Ironisnya, di tengah musim produksi, penjualan justru mengalami penurunan. “Kondisi harga gula saat ini sangat memprihatinkan, bahkan lelang sudah berada di bawah harga acuan pemerintah. Hal ini berdampak pada kesulitan dalam menjual gula yang telah kami produksi,” terangnya.
Tindakan Pemerintah untuk Menangani Masalah Ini
Menanggapi keluhan dari petani dan industri gula, Wabup Mimik Idayana pun segera memerintahkan instansi terkait untuk memeriksa peredaran gula rafinasi di pasar. “Kami tidak hanya perlu mengetahui alasan di balik menjamurnya gula rafinasi di pasaran, tetapi juga melindungi para petani serta pabrik gula dalam negeri yang terkena dampaknya,” tambahnya.
Pemerintah berencana untuk melakukan sosialisasi tentang dampak negatif gula rafinasi bagi kesehatan. “Kami ingin masyarakat memahami perbedaan antara gula rafinasi dan gula kristal serta manfaat masing-masing untuk kesehatan tubuh. Pengetahuan yang tepat dapat membantu mereka dalam memilih produk yang lebih berkualitas,” ujarnya.
Dengan langkah-langkah ini, diharapkan situasi dapat segera membaik bagi para petani dan pabrik gula lokal, serta memberikan edukasi yang lebih baik kepada masyarakat mengenai konsumsi gula yang sehat.