Gaza – Dalam perkembangan terbaru, tentara cadangan Israel mulai menerima panggilan untuk bersiap melaksanakan operasi pendudukan di Kota Gaza, meskipun Hamas telah setuju untuk menghentikan serangan. Situasi ini menciptakan ketegangan yang semakin meningkat, mengingat fakta bahwa gencatan senjata yang dimediasi oleh Mesir dan Qatar tampaknya tidak menghentikan langkah militer Israel.
Data menunjukkan bahwa anggota militer Israel mulai menerima perintah darurat yang dikenal sebagai “Order 8.” Hal ini merupakan tanda bahwa persiapan besar-besaran menuju operasi militer sedang berlangsung. Pertanyaannya, apakah langkah ini akan membuka jalur baru dalam konflik yang berkepanjangan, atau justru memperburuk keadaan yang sudah genting?
Peningkatan Mobilisasi Tentara Cadangan
Informasi dari Channel 12 mengungkapkan bahwa sekitar puluhan ribu personel cadangan akan dipanggil dalam waktu dekat. Kepala Staf Militer Israel, Eyal Zamir, juga menyatakan bahwa masa tugas pasukan cadangan yang sedang aktif akan diperpanjang. Tindakan ini menunjukkan bahwa Israel sedang mempersiapkan sesuatu yang lebih besar daripada operasi biasanya.
Berbagai analisis menunjukkan bahwa keputusan ini diambil sebagai respons terhadap ketegangan yang terus-menerus antara Israel dan Hamas, di mana kedua belah pihak tampaknya sulit mencapai konsensus. Selain itu, pihak militer Israel mengklaim bahwa langkah tersebut merupakan persiapan akhir untuk pendudukan Kota Gaza. Dalam pandangan beberapa pengamat, ini bisa jadi merupakan awal dari suatu konflik berskala lebih besar yang melibatkan masyarakat sipil di daerah pendudukan.
Strategi dan Dampak Operasi Militer
Satu aspek penting dari situasi ini adalah strategy yang akan diambil. Selain pergerakan tentara, media menyebutkan adanya kemungkinan perundingan dalam pertukaran tahanan yang akan berlangsung bersamaan dengan operasi militer. Namun, fakta ini justru menambah lapisan kompleksitas dalam situasi yang sudah tegang.
Pada 8 Agustus, rencana untuk kembali menguasai Jalur Gaza secara bertahap sudah disetujui oleh kabinet Israel. Ini meliputi pemindahan satu juta penduduk Palestina ke selatan dan pengepungan kota-kota serta penyerbuan yang sering kali berujung pada pengusiran paksa warga. Dalam satu serangan yang terjadi di Zeitoun, laporan dari saksi mata menyebutkan bahwa rumah-rumah dihancurkan dengan menggunakan robot jebakan dan senjata artileri. Pengepungan yang ketat ini tentunya tidak akan hanya membuat dampak fisik, tetapi juga emosional bagi masyarakat yang terpaksa meninggalkan rumah mereka.
Dengan situasi yang terus berkembang, hazard dan derita yang dialami oleh masyarakat Palestina semakin tidak dapat dihindari. Berbagai laporan menunjukkan bahwa langkah-langkah ini juga dapat memicu reaksi keras dari masyarakat internasional, yang dapat mempengaruhi citra Israel di pentas dunia.