JAKARTA – Respon cepat dan kolaborasi antar pihak sangat penting dalam penanganan bencana, seperti yang terlihat setelah gempa bumi di Poso. Masyarakat dan relawan saling bahu-membahu untuk membantu para penyintas dalam situasi sulit ini.
Menurut data yang ada, gempa bumi berkekuatan 5,8 magnitudo yang mengguncang wilayah Poso pada tanggal 17 Agustus 2025 lalu menyebabkan kerusakan yang signifikan, baik infrastruktur maupun jiwa. Kejadian ini mengingatkan kita akan pentingnya persiapan dan dukungan di saat krisis.
Peran Dapur Umum Dalam Menyediakan Kebutuhan Dasar
Salah satu langkah responsif dalam penanganan bencana adalah pembukaan Dapur Umum, yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan makanan bagi para penyintas. Tim relawan yang tergabung dalam Disaster Management Center (DMC) telah siap bergotong-royong memberikan layanan terbaik di daerah yang paling membutuhkan. Dengan menyediakan makanan berat, Dapur Umum berfungsi untuk mengatasi masalah kelaparan yang sering muncul seusai bencana.
Ahmad Syatir, seorang relawan dari DMC berbagi pengalamannya. Hingga kini, mereka telah melayani lebih dari 200 penerima manfaat, termasuk masyarakat yang terdampak. Hal ini menunjukkan urgensi untuk memberikan dukungan makanan kepada mereka yang kehilangan tempat tinggal dan akses ke sumber makanan lainnya. Selain itu, insight mengenai popularitas Dapur Umum dalam situasi krisis menunjukkan bahwa kehadiran layanan semacam ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat yang mengalami kesulitan.
Pentingnya Psikologis dan Dukungan Lainnya Pasca Bencana
Tidak hanya kebutuhan fisik yang harus diakomodasi, tetapi juga kebutuhan emosional masyarakat yang terdampak. Tim DMC juga berencana mengadakan sesi Psychology First Aid (PFA) untuk anak-anak yang terdampak, sebagai upaya membantu mereka mengatasi trauma akibat bencana. Ditambahkan pula bahwa bantuan berupa perlengkapan bayi juga akan disalurkan, menunjukkan kepedulian lebih terhadap berbagai lapisan masyarakat.
Di tengah situasi genting ini, masyarakat Poso masih dalam kondisi waspada mengingat potensi gempa susulan. Relawan tetap siaga, berupaya memberikan dukungan semaksimal mungkin. Dengan mengedepankan kolaborasi dan ketahanan masyarakat, diharapkan pemulihan pascagempa bisa berlangsung lebih efektif. Mengingat mayoritas di daerah tersebut merupakan petani, ketakutan untuk beraktivitas dapat mempengaruhi perekonomian lokal, sehingga dukungan berkelanjutan sangat mendesak diperlukan.
Di sisi lain, tanggap darurat yang ditetapkan oleh Pemerintah Kabupaten Poso selama 14 hari setidaknya memberi waktu bagi pihak-pihak terkait untuk melakukan intervensi lebih lanjut. Melalui upaya kolektif ini, diharapkan pemulihan bisa lebih cepat dan menyeluruh, sehingga kehidupan masyarakat bisa kembali normal.