Gaza – Jutaan warga di Gaza sedang menghadapi situasi kemanusiaan yang sangat mengkhawatirkan. Dalam periode 14 hingga 25 Agustus 2025, lebih dari 36.200 penduduk terpaksa meninggalkan rumah mereka akibat serangan militer yang terjadi. Kondisi ini memicu gelombang pengungsian yang semakin meluas, menciptakan tantangan serius bagi upaya bantuan kemanusiaan yang sudah terhambat.
Menurut laporan yang dirilis oleh Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa, sekitar 11.600 orang mengungsi dari wilayah utara ke selatan Jalur Gaza. Jumlah pengungsi terus bertambah, menandakan betapa mendesaknya situasi ini. Pada dua hari terakhir periode tersebut, tercatat 2.000 pengungsi baru yang bergabung ke dalam lautan orang-orang yang kehilangan tempat tinggal.
Peningkatan Angka Pengungsi di Gaza
Sebagian besar pengungsi ini berasal dari wilayah Kota Gaza, dengan lebih dari dua pertiga dari mereka bergerak menuju Deir al-Balah. Sementara itu, hampir sepertiga lainnya mencoba mencari perlindungan di Khan Younis. Pindah tempat tinggal tidak hanya menjadi perjalanan fisik bagi rakyat Gaza, tetapi juga memunculkan keresahan psikologis dan emosional yang mendalam.
Data dari otoritas kesehatan setempat semakin menambah keprihatinan. Dalam dua hari terakhir, tercatat bahwa tiga orang telah meninggal dunia akibat kekurangan gizi dan kelaparan. Total korban jiwa dari kondisi yang serupa telah mencapai 303 orang, termasuk 117 anak-anak. Angka ini mencerminkan krisis yang lebih jauh menjerat Gaza, di mana kebutuhan dasar seperti makanan dan akses kesehatan menjadi semakin langka.
Krisis Kemanusiaan dan Upaya Bantuan
Di tengah kekacauan ini, rumah sakit di Gaza memperingatkan bahwa persediaan darah semakin menipis. Kebutuhan harian mereka diperkirakan lebih dari 350 kantung darah untuk menyelamatkan jiwa yang terluka. Namun, dengan jumlah pendonor yang semakin menurun akibat malnutrisi dan kelaparan, fasilitas kesehatan mengalami kesulitan yang signifikan.
Sebelum situasi ini semakin memburuk, upaya pengiriman bantuan kemanusiaan di Gaza menghadapi banyak kendala. OCHA melaporkan bahwa dari 12 misi bantuan yang direncanakan, hanya enam yang berhasil dilaksanakan. Terdapat tiga misi yang berhasil mengambil kargo di perlintasan, tetapi dua di antaranya dibatalkan, dan satu ditolak karena masalah administrasi dengan pihak berwenang.
Situasi di Gaza kian memburuk, dengan kombinasi krisis pangan, kelaparan, pengungsian massal, dan terhambatnya distribusi bantuan. Ini menuntut perhatian kita sebagai masyarakat internasional untuk lebih aktif mengambil peran. Gencatan senjata penuh dan akses kemanusiaan yang tidak terhambat menjadi langkah mendesak yang harus dilakukan untuk menghentikan penderitaan warga sipil.