JAKARTA – Gempa yang terjadi di wilayah perbatasan Kabupaten Probolinggo dan Lumajang telah menciptakan dampak yang signifikan bagi masyarakat sekitar. Sejak Kamis (17/7) hingga Sabtu pagi, tercatat sebanyak 64 kali gempa bumi, dengan magnitudo berkisar antara 1,9 hingga 3,3.
Data menunjukkan bahwa gempa tersebut mengakibatkan 16 rumah mengalami kerusakan, dan ini adalah fakta yang perlu menjadi perhatian serius bagi semua pihak. Apakah Anda pernah merasakan dampak dari gempa bumi? Banyak orang tetap menganggap sepele, tetapi bagi yang merasakannya, situasi ini sangatlah menegangkan.
Frekuensi Gempa dan Dampaknya
Frekuensi gempa yang tinggi dalam rentang waktu singkat tentu mengundang keprihatinan. Menurut Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Probolinggo, R. Oemar Sjarif, jumlah desa yang terdampak juga meningkat dari empat desa menjadi enam desa. Desa-desa seperti Tiris, Ranu Segaran, dan Ranu Gedang termasuk yang mengalami kerusakan. Berdasarkan data, kerusakan yang dialami berkisar dari ringan hingga sedang.
Sebuah pengalaman menarik datang dari laporan warga di Kecamatan Krucil yang juga merasakan gempa, meskipun tidak ada laporan kerusakan. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun dampak fisik tidak terlihat, rasa ketidakpastian dan ketakutan dapat dirasakan oleh masyarakat, menciptakan situasi psikologis yang butuh perhatian.
Langkah Mitigasi dan Kesiapsiagaan Komunitas
Dalam menghadapi bencana seperti ini, koordinasi menjadi unsur kritis. BPBD Probolinggo telah bekerja sama dengan kecamatan, relawan, dan warga setempat dalam upaya penanganan dampak bencana. Pihaknya mengimbau masyarakat untuk selalu meningkatkan kewaspadaan, karena kondisi seperti ini memerlukan kesiapsiagaan yang tinggi dari semua pihak.
Peran masyarakat dalam mengatasi dampak bencana tak dapat dipandang sebelah mata. Dengan adanya forum pimpinan kecamatan dan relawan, mereka bisa membantu memantau situasi dan memberikan informasi yang diperlukan. Proses pemulihan akan dilanjutkan hingga semua wilayah terdampak terverifikasi dan mendapatkan bantuan sesuai kebutuhan. Hal ini tidak hanya meningkatkan daya tahan masyarakat menghadapi bencana, tetapi juga membangun rasa solidaritas dan kemampuan untuk saling membantu.