Sejumlah desa di sekitar puncak gunung Lewotobi Laki-Laki kini harus lebih waspada pasca erupsi yang terjadi pada Jumat malam dan Sabtu dini hari. Hal ini menjadi perhatian khusus mengingat dampak yang ditimbulkan seperti potensi banjir lahar hujan pada sungai-sungai yang berhulu di area tersebut.
Petugas yang mengamati kondisi gunung Lewotobi Laki-Laki, Emanuel Rofinus Bere, menggarisbawahi beberapa desa yang perlu mengambil langkah kewaspadaan. Daerah seperti Dulipali, Padang Pasir, Nobo, dan beberapa lainnya disarankan untuk bersiap menghadapi kemungkinan bencana yang mengancam.
Deteksi Awal dan Dampak Erupsi
Erupsi yang paling baru tercatat dengan ketinggian mencapai 10.000 meter pada Jumat (1/8) pukul 20.45 WITA memicu banyak perhatian. Suara gemuruh disertai dentuman keras turut terpantau, bahkan dapat didengar hingga jarak yang signifikan dari pos pengamatan. Hal ini menunjukkan aktivitas vulkanik yang cukup tinggi.
Pada saat erupsi kedua yang terjadi pada Sabtu dini hari dengan ketinggian mencapai 18.000 meter, fenomena ini bukan saja mengancam keselamatan, tapi juga dapat memicu terjadinya banjir lahar yang membahayakan permukiman di sekitarnya. Kolom abu yang teramati berwarna kelabu pekat dan memiliki intensitas tebal mengarah ke barat dan barat laut, menciptakan resiko bagi warga yang tinggal di dekat sungai.
Kewaspadaan dan Imbauan dari PVMBG
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengeluarkan imbauan bagi masyarakat yang tinggal di sekitar gunung Lewotobi Laki-Laki. Mereka diminta untuk tidak beraktivitas dalam radius enam kilometer dari pusat erupsi dan tujuh kilometer untuk sektor barat daya hingga timur laut. Ini adalah langkah pencegahan penting untuk mengurangi potensi risiko yang lebih besar.
Status gunung Lewotobi Laki-Laki masih dikategorikan dalam Level IV atau status awas. Ini menunjukkan bahwa masyarakat harus mengambil semua langkah pencegahan yang diperlukan. Kewaspadaan dalam hal ini bukan hanya untuk keselamatan pribadi, tetapi untuk keselamatan komunitas secara keseluruhan. Kesiapsiagaan dalam menghadapi situasi seperti ini harus menjadi prioritas bagi semua pihak yang terdampak.