Pemerintah Indonesia sedang mengkaji alternatif baru untuk pemberangkatan jemaah haji dan umrah melalui jalur laut. Inisiatif ini ditujukan untuk menurunkan biaya perjalanan dan sekaligus menghidupkan kembali tradisi pelayaran haji yang pernah ada di masa lalu. Namun, langkah ini menimbulkan pertanyaan di kalangan masyarakat tentang durasi perjalanan jika ditempuh melalui jalur laut dibandingkan dengan pesawat terbang.
Pengamat di sektor ini menyatakan bahwa, meski transportasi laut dapat lebih hemat biaya, waktu yang dibutuhkan jauh lebih lama dibandingkan jalur udara. Ini menjadi perhatian utama bagi calon jemaah ketika mempertimbangkan opsi perjalanan mereka.
Estimasi Waktu Tempuh Perjalanan Laut
Waktu yang diperlukan untuk perjalanan laut dari Indonesia ke Jeddah sangat bervariasi tergantung pada beberapa faktor seperti rute, jenis kapal, dan cuaca. Beberapa estimasi waktu tempuh adalah sebagai berikut:
• Perjalanan laut dapat memakan waktu antara 10 hingga 14 hari sekali jalan.
• Untuk rute dari Bangladesh ke Arab Saudi, estimasi adalah 8 hari untuk perjalanan pergi dan sama untuk pulang.
• Dalam catatan sejarah kolonial, perjalanan bisa memakan waktu antara 19 sampai 25 hari sekali jalan, bahkan hingga 49 hari pada awal penggunaan kapal uap.
• Pada masa lampau, jemaah haji dari Nusantara bisa menghabiskan waktu hingga 3 hingga 4 bulan untuk menyelesaikan perjalanan, ibadah, dan kembali ke tanah air.
Semua angka ini memberi gambaran jelas tentang berapa lama waktu yang mungkin diperlukan untuk perjalanan laut, dan membuatnya semakin menjadi pertimbangan serius bagi calon jemaah.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Durasi Perjalanan Laut
Terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi lamanya perjalanan laut. Pertama, jenis dan teknologi kapal yang digunakan sangat menentukan kecepatan dalam bepergian. Kapal modern cenderung lebih cepat daripada kapal tradisional, sehingga menjadi salah satu aspek penting dalam mengestimasi waktu tempuh.
Kedua, rute pelayaran yang dipilih juga mempengaruhi durasi perjalanan. Beberapa jalur memerlukan transit di pelabuhan lain, seperti Singapura atau Sri Lanka, yang selama ini menjadi jalur pelayaran utama. Ketiga, kondisi cuaca dan musim angin bisa berpengaruh signifikan, dengan badai atau cuaca buruk dapat memperlambat perjalanan. Faktor terakhir adalah kesiapan pelabuhan di Indonesia dan Jeddah yang harus mendukung aspek logistik dan keselamatan.
Meskipun jalur laut memberikan potensi penghematan biaya, tantangan waktu tempuh yang lebih lama tentunya harus dipertimbangkan dengan matang, terutama jika waktu yang dibutuhkan mencapai hitungan mingguan hingga bulanan.
Pemerintah saat ini masih dalam tahap mengkaji kelayakan teknis dan infrastruktur yang diperlukan, begitu pula aspek logistik. Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa opsi perjalanan ini bukan hanya aman, tetapi juga nyaman bagi para jemaah.
Satu hal menarik, Badan Penyelenggara Haji secara tegas menolak usulan untuk menggunakan kapal laut dalam pemberangkatan jemaah haji untuk musim haji mendatang. Menurut perwakilan mereka, penggunaan jalur laut tidak sejalan dengan cita-cita untuk memberikan layanan optimal kepada calon jemaah.
Mereka berpendapat bahwa perjalanan laut akan memperpanjang durasi tempuh dan dianggap tidak efisien secara ekonomi. Selain itu, langkah ini bisa menghambat upaya pemerintah dalam mengurangi masa tinggal jemaah di Arab Saudi.
Di dalam konteks ini, sangat penting untuk menemukan solusi yang efektif, baik dari segi waktu maupun biaya, agar tetap memudahkan calon jemaah haji dalam melaksanakan ibadahnya.