Oleh: Ahmad Inung (Sekretaris Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia, Kementerian Agama RI)
Dalam sebuah cerita yang penuh makna, terdapat seorang laki-laki yang tinggal di tepi hutan. Ia menjalani kehidupannya yang sederhana dan damai bersama keluarganya. Kegiatan sehari-harinya menjadi bagian dari ritme alami yang tak terpisahkan dari lingkungan dan komunitasnya.
Untuk menyambung hidup, ia mengandalkan alatnya yang berharga, sebuah kapak besi. Kapak ini menjadi penopang kehidupannya, dengan cara memotong kayu yang dijualnya di pasar terdekat. Di luar aktivitas utamanya, dia juga menanam sayuran di kebunnya dan merawat beberapa hewan peliharaan, menggabungkan usaha dan relaksasi dalam satu paket.
Perjuangan di Tengah Alam
Suatu pagi yang indah, sama seperti ribuan pagi sebelumnya, ia berangkat ke hutan dengan kapaknya. Sesampainya di sana, sinar mentari yang menembus celah pohon menciptakan suasana yang begitu memikat. Namun, hari itu akan membawa perubahan besar dalam hidupnya. Saat asyik menebang pohon dekat sungai, kapaknya terlepas dan jatuh ke dalam air. Kecemasan mulai menghampiri, dan ia segera melompat ke dalam sungai untuk mencarinya.
Walaupun telah menyelam berkali-kali, kapaknya tak kunjung ditemukan. Berharap dan berdoa menjadi satu-satunya cara yang tersisa untuknya. Doa merupakan penghubung antara harapan dan kenyataan, dan satu-satunya cara untuk melawan kesedihan yang menyelimuti hatinya. Dalam keadaan basah kuyub dan putus asa, ia menyerahkan semua kepada Tuhan.
Hasil dari Kejujuran
Tiba-tiba, keajaiban terjadi. Sebuah sosok malaikat muncul di hadapannya, membawa kabar bahwa Tuhan mendengar doanya. Malaikat itu kemudian turun ke dalam air untuk mengambil kapak, tetapi bukan kapak biasa yang dibawa; ia kembali dengan kapak perak yang berkilau. Namun, laki-laki itu menolak. Dia tahu bahwa itu bukan miliknya.
Malaikat itu kemudian menyelam lagi dan muncul dengan kapak emas yang sangat indah. Namun, lagi-lagi, laki-laki itu menolaknya. Pada saat malaikat kembali dengan kapak besi tua dan sederhana miliknya, wajahnya langsung bersinar cerah. “Inilah kapakku,” serunya sambil mengucapkan terima kasih. Dalam sebuah momen berharga, dia diberikan kapak perak dan emas atas integritasnya.
Kisah ini mencerminkan pentingnya integritas dalam kehidupan kita. Integritas bukan hanya tentang kebenaran dalam tindakan, tetapi juga konsistensi antara apa yang kita katakan dan apa yang kita lakukan. Orang yang bersikap jujur dan memiliki integritas akan menjadi pribadi yang dapat dipercaya. Tanpa integritas, siapapun, terlepas dari posisi dan statusnya, berpotensi untuk menyebarkan kerusakan dan kekecewaan.
Ketika seorang guru tidak memiliki integritas, bagaimana dia bisa mengajarkan nilai kejujuran kepada murid-muridnya? Inilah tantangan yang dihadapi di berbagai bidang kehidupan. Integritas mendorong kita untuk berperilaku jujur dan bertanggung jawab, tidak peduli kesempatan yang ada di depan mata. Tanpa itu, perjalanan kehidupan dapat berbelok tajam menuju kerusakan.
Seperti yang dikatakan para bijak, “Integritas memiliki ganjarannya sendiri.” Keberanian untuk selalu benar dan bertanggung jawab bukan hanya menjadi bekal penting, tetapi juga fondasi bagi kehidupan yang lebih baik. Jadi, mari kita pelihara integritas dalam setiap langkah kita, karena di sanalah kunci untuk mencapai kehidupan yang lebih baik, untuk diri sendiri dan orang lain.