Sepanjang semester pertama tahun 2025, Maluku Utara mengalami 76 kejadian bencana hidrometeorologi basah, yang mengakibatkan dampak signifikan pada 48 kecamatan di wilayah tersebut. Kejadian-kejadian bencana ini mencakup berbagai jenis seperti banjir, tanah longsor, dan cuaca ekstrem, yang menyoroti tantangan serius terhadap keselamatan masyarakat dan infrastruktur daerah.
Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana, berbagai jenis bencana ini terdiri dari 32 kejadian banjir dan banjir bandang, 11 kejadian tanah longsor, 8 kejadian cuaca ekstrem, 3 kejadian abrasi, dan 2 kejadian erupsi gunung api. Angin puting beliung juga mencatatkan 5 kejadian, serta 1 kejadian banjir rob. Data ini menunjukkan bahwa Maluku Utara tidak hanya dihantam oleh satu jenis bencana, melainkan kombinasi berbagai ancaman yang perlu diwaspadai.
Penyebab Utama Bencana Hidrometeorologi di Maluku Utara
Analisis mendalam menunjukkan bahwa pendangkalan aliran sungai, ditambah dengan sistem drainase yang belum memadai, merupakan faktor signifikan yang memicu terjadinya banjir. Khususnya di Kabupaten Halmahera Selatan, yang berada di garis depan bencana dengan total 19 kejadian banjir. Ketidakcukupan infrastruktur ini menjadi tantangan besar bagi pemerintah daerah dalam upaya mitigasi risiko bencana.
Pentingnya perbaikan infrastruktur di hulu sungai semakin menonjol, terutama saat mengingat insiden banjir bandang yang melanda Kota Ternate pada tahun 2024. Masyarakat perlu memahami bahwa keindahan alam Maluku Utara membawa risiko yang tinggi, sehingga kewaspadaan adalah kunci untuk mengurangi dampak bencana di masa depan. Pengalaman dari tahun-tahun sebelumnya menunjukkan perlunya intervensi yang sistematis untuk menangani permasalahan ini.
Strategi Mitigasi dan Kesadaran Sosial
Sebagai langkah pencegahan, BNPB mengingatkan masyarakat untuk selalu waspada dan memperhatikan tanda-tanda potensial bencana. Ini termasuk meningkatkan kesadaran akan perilaku aman dalam menghadapi bencana, serta memperkuat infrastruktur yang rentan. Selain itu, BNPB juga mencermati potensi erupsi lima gunung api aktif di Maluku Utara. Dengan ketiga gunung ini saat ini berada dalam status waspada, masyarakat diminta untuk siap siaga dan mengikuti arahan resmi tentang langkah-langkah yang harus diambil.
Keberhasilan dalam menghadapi bencana tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga sangat bergantung pada partisipasi aktif masyarakat. Kerjasama antara pemerintah dan warga dapat memperkuat ketahanan daerah terhadap bencana, menjadikan upaya mitigasi lebih efektif. Dengan memanfaatkan data dan pengalaman sebelumnya, kebijakan yang diambil dapat lebih terarah, meminimalisir risiko di masa depan.
Pada akhirnya, sinergi antara kesadaran dan infrastruktur yang memadai menjadi kunci dalam menghadapi tantangan bencana. Maluku Utara harus siap berdiri di tengah keindahan alamnya, dengan kesiapan menghadapi potensi risiko yang mengintai.