JAKARTA – Kementerian Agama menginformasikan terjadinya fenomena astronomi Istiwa A‘zam pada 15 dan 16 Juli 2025. Fenomena ini menjadi salah satu momen penting bagi umat Islam, di mana matahari melintas tepat di atas Ka’bah, sehingga bayangan benda yang berdiri tegak lurus akan menunjuk arah yang berlawanan dari kiblat.
Masyarakat dapat memanfaatkan momen ini untuk mengukur atau mengkalibrasi arah kiblat secara mandiri. Mengapa hal ini penting? Karena banyak umat Islam yang masih meragukan akurasi arah kiblat yang mereka gunakan dalam beribadah.
Pentingnya Fenomena Istiwa A‘zam dalam Menentukan Arah Kiblat
Dalam ilmu falak, fenomena Istiwa A‘zam diakui sebagai waktu yang ideal untuk menentukan arah kiblat. Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah menjelaskan bahwa ada berbagai metode yang bisa digunakan untuk menentukan arah kiblat, seperti menggunakan kompas dan teodolit, namun Istiwa A‘zam menawarkan metode yang lebih sederhana dan mudah.
Dari pencerahan tersebut, kita melihat bahwa tidak semua orang memiliki akses atau alat yang diperlukan untuk pengukuran arah kiblat. Dengan memanfaatkan fenomena ini, siapa saja bisa melakukan pengukuran tanpa perlu keahlian khusus. Ini merupakan langkah positif yang meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam menjaga akurasi ibadah mereka.
Strategi Memanfaatkan Istiwa A‘zam untuk Memverifikasi Arah Kiblat
Bagi umat Islam, waktu Istiwa A‘zam bisa menjadi kesempatan emas untuk memastikan arah kiblat yang selama ini digunakan. Ketika momen ini tiba, pastikan beberapa hal penting. Pertama, benda yang dijadikan patokan harus berdiri tegak lurus. Hal ini bisa dilakukan dengan menggunakan alat bantu seperti lot atau bandul. Kedua, pastikan permukaan tempat pengecekan datar dan rata agar hasil yang diperoleh akurat.
Penting juga untuk memperhatikan waktu pengukuran. Pengukuran harus disesuaikan dengan waktu resmi, seperti yang dikeluarkan oleh instansi terkait. Ketepatan waktu menjadi kunci, sebab bayangan yang dihasilkan harus sesuai dengan posisi matahari yang berada tepat di atas Ka’bah.
Fenomena Istiwa A‘zam tidak hanya memberikan kesempatan untuk memverifikasi arah kiblat, tetapi juga bisa menjadi waktu refleksi bagi umat Islam untuk lebih memahami dan menjaga keakuratan dalam praktik ibadah mereka. Saat momen ini berlangsung, kita diingatkan akan pentingnya keharmonisan dalam ibadah yang pada akhirnya mendekatkan diri kepada Tuhan.